"SELAMAT PASKAH, bangkit menjadi lebih baik"

Rabu, April 08, 2009

Frater-FRater bermisi...

Sehari menjelang TRIHARI SUCI ini, Wisma Nazareth yang biasanya penuh aktifitas para frater, kini mulai sepi. Para frater meninggalkan WINAZ untuk bermisi yakni merayakan TRIHARISUCI di berbagai paroki.
Tugas mereka di paroki nantinya memang berbeda-beda ada yang bersama romo di gereja paroki ada juga yang harus sendiri memimpin ibadat. Yang terakhir ini biasanya yang mendapatkan tugas di stasi-stasi seperti di stasi cemoro wates Paroki Parakan.
Pagi ini tadi para frater naik bis menuju tempat tugas masing-masing dengan gembira.
Selamat mewartakan KABAR GEMBIRA.




Read More......

Kamis, Maret 12, 2009

Valentine Bersama Pater Berthier

Misdinar Paroki Banteng dan Minomartani merayakan Valentine bersama para imam dan frater MSF (Misionaris Keluarga Kudus) di Aula Wisma Nazaret, Yogyakarta, Sabtu, 14/2. Acara bertajuk “Kaum Muda: Membakar Jiwa, Sebarkan Cinta bersama Pater Berthier” ini merupakan bagian dari Perayaan 100 tahun Wafatnya Pater Berthier, pendiri MSF.

“Sebagai Hari Kasih Sayang, Valentine bukan hanya milik mereka yang berpacaran, tapi juga milik misdinar yang melayani Tuhan,” ungkap Rm. Andreas Tri Adi MSF, koordinator umum acara tersebut. Melalui pemutaran film, para misdinar kedua paroki yang dilayani tarekat MSF itu diajak meneladan semangat Pater Berthier. Sejak usia delapan tahun, Berthier cilik menjadi misdinar. Ketekunannya sebagai misdinar mendorong Berhier memasuki seminari dan mengantarnya menjadi imam yang suci dan penuh semangat.


Seratus lima puluh misdinar tampak antusias mengikuti acara yang baru pertama kali diadakan ini. Para misdinar bersaing ketat untuk menjawab kuis seputar Pater Berthier. Kegembiraan tercipta melalui gerak dan lagu yang dipandu para imam dan frater. Tampilan drama, band, dan modern dance dari misdinar turut menyemarakkan suasana. Keakraban semakin terasa ketika para peserta saling bertukar kado Valentine. “Valentine kali ini terasa spesial. Saya jadi akrab dengan sesama misdinar dan para frater, “ ujar Kiki, misdinar Paroki Banteng.

Ketua panitia, Fr. Eka Jaya MSF, menjelaskan bahwa acara ini bertujuan menjalin kerjasama antara misdinar kedua paroki, sekaligus memperkenalkan teladan Pater Berthier kepada tunas muda Gereja. “Semangat para misdinar amat membanggakan. Mereka berperan aktif dalam merancang tema dan mengisi acara ini,” pujinya.


Bobby Steven MSF



Read More......

REKOLEKSI LANSIA

Paguyuban Lanjut usia (Lansia) St. Elisabeth Paroki St. Petrus dan Paulus Temanggung mengadakan rekoleksi di Aula SD Pangudi Utami, Minggu, 1/3. Kegiatan yang diikuti delapan puluh peserta ini diadakan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-dua paguyuban tersebut.
Rekoleksi bertema “Bahagia dan Beriman di Masa Lansia” ini dipandu Rm. Agustinus Susilo MSF beserta para frater Skolastikat MSF Yogyakarta. Pada awal rekoleksi, para peserta diajak berefleksi dengan menyimak drama yang dibawakan oleh para frater. Drama tersebut menggambarkan pergulatan batin seorang kakek dalam menerima kenyataan sebagai lansia.


“Umumnya seorang lansia dicap sebagai orang yang selalu merepotkan dan sudah tidak berguna lagi. Tentu tidak seorangpun ingin dicap seperti itu. Karenanya seorang lansia perlu mengembangkan lima sikap positif agar tetap berbuah di usia senja,” ujar Rm. Susilo. “Kelima sikap yang perlu dikembangkan tersebut adalah realistis, bijaksana, matang, mampu mengatasi kesepian, serta optimis dalam memandang diri,” lanjutnya.
Yang menarik, kelima sikap tersebut dipelajari melalui permainan yang melibatkan para peserta. Guna mengasah sikap realistis terhadap situasi diri, para lansia diadu dalam lomba lari bakiak. Selain itu, peserta diajak menuangkan potensi diri melalui permainan kreasi koran bekas. Selanjutnya, para lansia saling unjuk kebolehan dalam pentas drama.
Rekoleksi dipuncaki dengan renungan mengenai Simeon dan Hana. “Setiap lansia sepantasnya meneladan Simeon dan Hana, yang dalam usia senja semakin mendekat dan berpasrah pada Allah,” ajak Rm. Susilo.
Para peserta tampak antusias mengikuti rekoleksi dari awal sampai akhir. “Melalui permainan dan renungan, kami belajar menjadi lansia yang bahagia dan beriman,” tutur Godeliva Tentrem, ketua panita acara tersebut.


Octavianus Bobby MSF





Read More......

Minggu, Maret 01, 2009

Kerabat MSF KUDUS ke Wisma Nazareth


Sabtu siang, 28 Pebruari Wisma Nazareth mendapat kunjungan para kerabat MSF dari Paroki Kudus. Mereka berjumlah sekitar tiga puluh orang yang kebanyakan para ibu.

Menurut pemimpin rombongan, kunjungan ke WIsma Nazareth ini merupakan salah satu acara kerabat untuk turut mendukung panggilan para frater.


Berulangkali dalam sambutannya Rm. Rektor mengucapkan terimakasih atas perhatian para kerabat kudus dalam mendukung panggilan dan kehidupan di Wisma Nazareth. “Kalau tidak bisa mempersembahkan anak untuk menjadi imam, toh ANda juga bisa memberikan hal lain untuk mendukung pendidikan para frater”. Dan memang mereka datang dengan membawa berbagai macam keperluan dapur seperti beras, minyak goreng, mie dan lain-lain.
Terimakasih Kerabat MSF Paroki Kudus



Read More......

Jumat, Februari 27, 2009

Menghadirkan JIWA Pater Berthier: SALEH DAN CERDAS

Tanggal 26 Pebruari yang lalu, Wisma Nazareth mengadakan misa pemberkatan patung P. Berthier, pendiri Tarekat MSF. Patung setinggi 2 m lebih ini merupakan karya salah seorang umat Wilayah Gejayan. Misa pemberkatan dipimpin oleh uskup emiritus Mgr. Prajasuta MSF dan dihadiri oleh romo-romo domus wisma nazareth serta umat sekitar paroki Banteng.


"Penempatan Patung Pater Berthier di seminari ini merupakan upaya menghadirkan kembali jiwa Pater Berthier yang menampilkan diri sebagai imam yang saleh dan mampu" demikian diungkapkan Rm. Wim dalam kotbahnya. Betul. Kiranya para seminaris dan para romo yang tinggal di Wisma Nazareth ini terus dimotivasi oleh semangat P. Berthier ini.



Tapi lebih luas Patung Berthier ini juga menggugah umat yang datang ke gereja untuk membiarkan diri terbuka "diketuk" hati untuk bersemangat MENGGEREJA sebagaimana Pater Berthier.


Read More......

Senin, Februari 16, 2009

Valentine bersama Misdinar


Tanggal 14 Februari, dengan acara VALENTIN-an, kurang lebih 200 orang membuat ramai aula Wisma Nazareth. Mereka adalah para remaja misdinar Paroki Banteng, Paroki Minomartani dan para frater MSF juga tidak ketinggalan para romo MSF. Acara ini merupakan salah satu rangkaian acara Tahun Berthier, merayakan 100 tahun wafatnya Pater Berthier, pendiri MSF. Tidak tanggung-tanggung acara malam itu mengambil tema: KAUM MUDA MEMBAKAR JIWA MENYEBARKAN CINTA BERSAMA PATER BERTHIER. Dan betul rasanya suasana malam itu sangat meriah khas anak muda. Ibarat api, api yang berkobar.
Romo dan frater terlibat dalam tiap acara: Nyanyi gerak dan lagu, game, nonton film dokumenter tentang Pater Berthier; saling berbagi coklat. Melalui gerak dan lagu para remaja digugah untuk semangat dalam hidup; untuk menyebarkan cinta sebagaimana diteladankan P. Berthier, yang menyebarkan cinta Tuhan melalui hidupnya sebagai misionaris tak kenal lelah.
Di akhir acara Rm. Andre dan Fr. Eka selaku panitia berharap agar dengan acara ini para remaja dapat menerapkan sikap mencintai dalam keluarga terutama terhadap orang tua masing-masing. Acara diakhiri pada pukul 10.00





Read More......

Kamis, Februari 12, 2009

SESAL, titik tolak menjadi MANUSIA BARU


Berdiri di hadapan ALLah, siapa yang merasa pantas? Saya rasa tidak ada. Banyak tokoh yang diceritakan dalam KS juga mengalami perasaan yang tidak pantas.
Paulus, merasa hina, merasa kecil; merasa diri bagaikan bejana tanah liat, merasa sebagai pribadi yang rapuh. Yesaya juga, berhadapan dengan Allah yang kudus benar-benar merasa tidak pantas karena terlihat begitu kotornya dirinya. “celakalah aku. Aku binasa. Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir”.
Di hadapan Allah orang merasa tidak pantas. Orang disadarkan akan prilaku hidupnya. Sama. Kita juga. Siapakah aku ini? Kita diajak untuk melihat, menyadari sisi lemah yang paling lemah, yang benar-benar sering membuat kita menyimpang. Kerapuhal yang membuat diri kita mengikuti jalan sendiri. Kita akui dengan penuh sesal. Seraya mohon ampun dan mulai hidup baru.
Memang sisi lemah yang paling lemah itu tidak serta merta hilang atau bersih dari pribadi kita. Tetapi kita diajak hati-hati, mewaspadai. Tentu tidak mudah karena suatu kebiasaan lama yang melekat tidak mudah ditinggalkan. Tapi itulah yang mesti ditempuh. “berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu”. Mari kita syukuri penerimaan dan uluran pengampunan Allah yang melegakan kita. Dan tiba saatnya memulai hidup baru.





Read More......

Selasa, Desember 23, 2008

SELAMAT NATAL

Kami haturkan SELAMAT NATAL...
Yesus, Sang Imanuel lahir di hati dan keluarga kita.
Damai selalu.


Read More......

Kamis, November 27, 2008

Berthier, Teguh menjalani laku rohani


P. Berthier, kuat menjalani laku rohani
Hafal ayat-ayat Kitab Suci. Berthier kuat sekaligus teguh menjalani laku rohani. Sudah sejak kecil, pada usia sekitar 4 th, telah hafal bagian-bagian dari isi Kitab SUci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tentu tidak semua dihafal, tapi beliau menghafal ayat-ayat yang dipandang penting. Bisa dibayangkan betapa hidupnya selanjutnya sedemikian dipengaruhi dan dibentuk oleh ayat-ayat Kitab Suci yang dihafal itu. Penulis berefleksi, bagaimana anak jaman sekarang? Hafalkah ayat-ayat Kitab Suci? Apa itu kuno? Tidak, hemat penulis cara pendidikan seperti itu tetaplah penting untuk anak di suatu keluarga jaman sekarang. Hafalan ayat Kitab Suci bisa membentuk pola pikir dan pola tingkah laku.

Meditatif. Hal lain yang ditunjukan P. Berthier adalah kebiasaannya untuk berdoa. Rm. Wim menyebut P. Berthier mempunyai konsentrasi tinggi dalam doa. Dia biasa duduk, dalam waktu lama, untuk berdoa di tempat yang sama. Penulis menangkap ini sama dengan suatu kebiasaan meditasi. Hidup P. Berthier betul diwarnai dengan hidup yang meditatif-kontemplatif.

Lihatlah ketika beliau berjanji kepada Bunda Maria La Salette untuk “kembali”, untuk menyebarkan warta pertobatan. Komitmen itu tentu lahir dari hidup yang meditatif. Atau sekurang-kurangnya sesudah menjalani permenungan. Memang beliau dengan tegas memilih corak hidup aktif, bukan kontemplatif untuk tarekat MSF yang didirikannya ini. Namun kebiasaan doa dan hening tentu masih beliau teruskan dan bahkan berharap diteruskan oleh semua yang tergabung dalam MSF. Lihatlah beberapa doanya: “...Yesus yang tunduk kepada Maria dan Yusuf, berilah misionarisMU semangat ketaatan.” Semangat taat mengandaikan pribadi yang terbiasa ‘mendengarkan’. Dalam doa hening meditatif kita dibiasakan mendengarkan, taat pada suara ilahi. “Yesus yang selama melakukan pekerjaan tangan selalu ingat akan pesan Bapa di surga, berilah para misionarisMU semangat berdoa dan kesatuan dengan Allah”. Terlihat jelas semangat doa ini yaitu sikap meditatif dan merenung. “Keluarga Kudus, karena cintamu akan keheningan, berilah mereka semangat merenung”. Kembali ditekankan harapan P. Berthier agar membiasakan sikap merenung. Untuk jaman sekarang, bagi siapapun betapa penting membiasakan diri meditasi sebagaimana kebiasaan dan pesan P. Berthier. Kebiasaan merenung dan meditasi akan menumbuhkan keutamaan sebagai murid Kristus. “Apa yang sesungguhnya kita lakukan selama meditasi adalah suatu kegiatan yang tidak mementingkan diri sendiri. Semua spiritualitas menggambarkan kegiatan ini sebagai cara untuk menemukan siapa diri kita dan mengapa kita ada. Meditasi adalah suatu pencarian pribadi dan universal akan kebenaran” (Laurence Freeman, A Pearl of Great Price”). Tumbuhkanlah hidup rohanimu dengan terus merenung dan meditasi.

Read More......

Jumat, November 07, 2008

Kawula Madya I Belajar dari Pater Berthier

Tanggal 5-6 Nopember Kawula Madya I mengadakan pertemuan lagi. Kawula Madya I ini merupakan wadah kebersamaan dan belajar bersama para MSF yang memasuki tahun kaul/kekal atau imamat ke-5 sampai dengan usia 40. Pertemuan kali ini diadakan di Wisma Kana Salatiga. Sore hari tanggal 5 diadakan bincang-bincang evaluasi kegiatan yang telah dijalankan sekaligus menyusun agenda kegiatan tahun 2009.

Pada Kamis tanggal 6 Nopember dimulai pembahasan bersama mengenai Hidup Pendiri, Pater Berthier. Rm. Wim membantu kita semua mengenal lebih dalam Pater Pendiri. Kita memang telah sering mengenal biografi Pater Pendiri tapi rasanya masih saja merasa kurang. Hidup Pater Pendiri memang sangat menarik untuk terus digali dan diambil relevansinya bagi hidup imamat dan pelayanan kita. Ada beberapa pokok penting mengenai hidup Pater Berthier yang disampaikan oleh Rm. Wim. Penulis, mencoba membahasakan kembali berdasarkan kemampuan menangkap dan ketertarikan. Bagi para konfrater Kawula Madya I sangat diharapkan ikut melengkapi.

P. Berthier, kuat menjalani laku rohani
Hafal ayat-ayat Kitab Suci. Berthier kuat sekaligus teguh menjalani laku rohani. Sudah sejak kecil, pada usia sekitar 4 th, telah hafal bagian-bagian dari isi Kitab SUci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tentu tidak semua dihafal, tapi beliau menghafal ayat-ayat yang dipandang penting. Bisa dibayangkan betapa hidupnya selanjutnya sedemikian dipengaruhi dan dibentuk oleh ayat-ayat Kitab Suci yang dihafal itu. Penulis berefleksi, bagaimana anak jaman sekarang? Hafalkah ayat-ayat Kitab Suci? Apa itu kuno? Tidak, hemat penulis cara pendidikan seperti itu tetaplah penting untuk anak di suatu keluarga jaman sekarang. Hafalan ayat Kitab Suci bisa membentuk pola pikir dan pola tingkah laku.

Meditatif. Hal lain yang ditunjukan P. Berthier adalah kebiasaannya untuk berdoa. Rm. Wim menyebut P. Berthier mempunyai konsentrasi tinggi dalam doa. Dia biasa duduk, dalam waktu lama, untuk berdoa di tempat yang sama. Penulis menangkap ini sama dengan suatu kebiasaan meditasi. Hidup P. Berthier betul diwarnai dengan hidup yang meditatif-kontemplatif.

Lihatlah ketika beliau berjanji kepada Bunda Maria La Salette untuk “kembali”, untuk menyebarkan warta pertobatan. Komitmen itu tentu lahir dari hidup yang meditatif. Atau sekurang-kurangnya sesudah menjalani permenungan. Memang beliau dengan tegas memilih corak hidup aktif, bukan kontemplatif untuk tarekat MSF yang didirikannya ini. Namun kebiasaan doa dan hening tentu masih beliau teruskan dan bahkan berharap diteruskan oleh semua yang tergabung dalam MSF. Lihatlah beberapa doanya: “...Yesus yang tunduk kepada Maria dan Yusuf, berilah misionarisMU semangat ketaatan.” Semangat taat mengandaikan pribadi yang terbiasa ‘mendengarkan’. Dalam doa hening meditatif kita dibiasakan mendengarkan, taat pada suara ilahi. “Yesus yang selama melakukan pekerjaan tangan selalu ingat akan pesan Bapa di surga, berilah para misionarisMU semangat berdoa dan kesatuan dengan Allah”. Terlihat jelas semangat doa ini yaitu sikap meditatif dan merenung. “Keluarga Kudus, karena cintamu akan keheningan, berilah mereka semangat merenung”. Kembali ditekankan harapan P. Berthier agar membiasakan sikap merenung. Untuk jaman sekarang, bagi siapapun betapa penting membiasakan diri meditasi sebagaimana kebiasaan dan pesan P. Berthier. Kebiasaan merenung dan meditasi akan menumbuhkan keutamaan sebagai murid Kristus. “Apa yang sesungguhnya kita lakukan selama meditasi adalah suatu kegiatan yang tidak mementingkan diri sendiri. Semua spiritualitas menggambarkan kegiatan ini sebagai cara untuk menemukan siapa diri kita dan mengapa kita ada. Meditasi adalah suatu pencarian pribadi dan universal akan kebenaran” (Laurence Freeman, A Pearl of Great Price”). Tumbuhkanlah hidup rohanimu dengan terus merenung dan meditasi.

Mengisi Waktu tanpa satu menitpun terlewati
Hari-hari P. Berthier dipenuhi dengan aneka aktifitas. Misalnya menulis dan membuat buku. Itu dilakukannya di tengah-tengah tugas utamanya sebagai pendidik di seminari. Selain menulis, ia juga banyak membaca dan kerja tangan lain. Barangkali orang jaman sekarang menilai sikap P. Berthier ini sebagai suatu ungkapan pengabdian bagi Allah Sang Pemberi hidup (waktu). Setiap waktu sangat berharga. Sikapnya mengenai waktu terlihat jelas dari ungkapannya yang mengagumkan: “...tidak habis mengerti bahwa para imam memboroskan waktu biarpun hanya satu menit.” Waktu adalah anugerah, jangan sia-siakan.

“...Supaya jangan ada panggilan yang hilang”
P. Berthier berobsesi untuk menyediakan tenaga bagi pewartaan keselamatan bagi umat. Dalam sikap dan kata-katanya beliau berharap agar panggilan untuk memajukan pewartaan Injil semakin berkembang. Supaya pesan pertobatan sampai kepada semakin banyak orang. Harapannya ini berlaku juga untuk awam, agar semakin banyak yang terlibat dalam pewartaan. Dari sinilah kemudian muncul dan mengalir suatu kerasulan Panggilan bagi tarekat MSF ini. Bagaimana MSF sekarang meneruskan/menanggapi api yang membara P. Berthier ini? Rm. Wim menantang kita semua dengan pertanyaan-pertanyaan tajam. Bagaimana kita secara profesional mengembangkan kerasulan Panggilan? Sebagai putra-putra Berthier terlibat dalam kerasulan panggilan adalah wajib.

Sangat mengagumkan pribadi dan harapan-harapan P. Berthier. Semoga kita semua ditumbuhkan dalam keutamaan. Semoga berkobarlah semangat Berthier dalam diri kita. Terima Kasih Rm Wim telah menjadi fasilotator untuk memperdalam pribadi P. Berthier. (Prabowo MSF).

Read More......

Minggu, November 02, 2008

Seminari MSF-Wisma Nazareth, terbuka menerima kunjungan Anda



Oktober sudah berlalu. Kabar menggembirakan, selama bulan Oktober Wisma Nazareth telah beberapa kali menerima kunjungan kelompok umat. Misalnya Kerabat MSF Temanggung, Kelompok Mahasiswa Katolik ABA Pignatelli Surakarta. Memang dari waktu ke waktu selalu ada kelompok-kelompok yang datang berkunjung ke WIsma Nazareth. Dan kami sangat welcome menerima siapa pun yang datang. Umumnya mereka datang untuk mengetahui lebih jauh tetang kehidupan pendidikan para frater, termasuk melihat lingkungan dan gedungnya.Kami pun ingin membuat kunjungan umat ini berkesan. Maka acara kunjungan dan kebersamaan dibuat menarik. Bersama para frater para tamu diajak untuk bermain bersama, berdinamika kelompok yang tentu saja memberi pelajaran berharga. Pelajaran tentang indahnya persaudaraan dan kebersamaan.
Anda berminat sekedar ingin tahu tempat para frater? Silahkan berkunjung. Kami terbuka menerima ANda.


Read More......

Sabtu, November 01, 2008

Pater BERTHIER, Pendiri MSF


Masa Kanak-Kanak
Jean Berthier lahir pada tgl. 24 Februari 1840 di Châtonnay, sebuah desa kecil di Dauphiné, sebagai anak sulung dari sebuah keluarga petani sederhana. Dari ayahnya ia mewarisi semangat ketekunan dan kemauan yang kuat, yang tampak dalam sikapnya di kemudian hari. Dari ibunya Jean mewarisi kebaikan penuh kasih. Ibu adalah seorang perempuan yang menghayati secara mendalam hidup keagamaannya, yang memberi pendidikan katolik secara baik kepada anak-anaknya. Di kemudian hari Jean berkata: “Saya berpikir bahwa satu dari rahmat terbesar yang Tuhan berikan kepadaku adalah seorang ibu yang saleh. Dia menegur, dia membina saya dan tidak membiarkan saya melakukan sesuatu yang negatif. Ibuku mengerti bahwa ia pertama-tama adalah seorang katolik, dan baru kemudian seorang ibu, dan bahwa tugasnya yang paling penting adalah: menjadikan saya seorang pengikut Kristus.”

Ayah dari Berthier bangga dengan anak sulungnya yang sangat pandai dan rajin. Oleh sebab itu ia ingin putranya menerima pendidikan yang baik. Tidak boleh dilewatkan barang sehari-pun tanpa pergi ke sekolah. Maka selama bulan-bulan musim dingin, ketika banyak salju di jalan, ayah sering memanggul Jean ke sekolah. Selama musim dingin ia mengajar Jean membaca Kitab Suci dan mengucapkan dengan betul nama-nama yang sukar. Oleh karena daya ingatnya luar biasa Jean mampu mengingat teks-teks yang panjang, dan karena alasan itu romo paroki memintanya membawakan di luar kepala Kisah Sengsara di gereja selama pekan suci. Waktu itu Jean baru berumur 9 tahun!
Pada akhir kelas enam di Sekolah Dasar romo paroki mengusulkan akan memberikan kepada Jean dan kepada beberapa teman sekelasnya, yang semua telah menjadi putra altar, satu tahun pendidikan khusus sebagai persiapan bagi seminari menengah. Ayahnya berkeberatan, sebab untuk masa depan Jean, keinginannya hanya satu: Jean harus selekas mungkin mulai membantu bapanya dalam usaha pertanian, agar di kemudian hari ia menjadi seorang petani yang sukses. Tetapi romo paroki dan ibunya membujuk ayahnya untuk membiarkan Jean mengikuti tahun persiapan khusus itu. Lagi pula segala waktu kosong di sekolah mau dipakai Jean untuk melaksanakan tugasnya sebagai anak sulung, yakni membantu ayahnya di ladang.
Bersama dengan pastor pembantu, pastor kepala paroki membimbing para calon seminaris ini dengan program sangat intensif, dengan materi yang biasanya diberikan pada tahun-tahun pertama di seminari. Ini adalah salah satu usaha dari pastor paroki untuk mempromosikan panggilan bagi imamat. Selama 46 tahun bekerja sebagai pastor paroki di Châtonnay sekitar 30 imam dan hampir 60 orang suster muncul dari paroki itu. Ketika tahun persiapan itu hampir selesai, si ayah harus diyakinkan bahwa sebaiknya ia memberi ijin kepada Jean untuk mengikuti keinginannya, yakni masuk seminari. Ibu sangat menolong dan berkat dorongan yang kuat dan terus-menerus dari pastor paroki akhirnya ayah menyerah.

Perjalanan Menuju Imamat
Jean berumur 13 tahun ketika ia bersama teman-temannya dari Châtonnay masuk seminari menengah di keuskupan Grenoble. Para pengajarnya begitu terkesan akan kemampuan Berthier kecil dan akan hasil yang baik dari tahun persiapan di desa kelahirannya sehingga ia langsung dimasukkan ke kelas tiga. Bulan-bulan pertama menjadi masa yang sangat sulit baginya. Ia rindu kampung halamannya. Ia juga harus mengejar banyak sekali bahan pelajaran, sehingga hampir kehilangan harapan untuk bisa meneruskan program itu. Tetapi otaknya yang baik dan daya kemauannya yang keras membantu untuk mengatasi krisis itu, dan pada akhir tahun ia mencapai ranking yang tinggi.
Di seminari ia belajar mata pelajaran yang paling penting, yakni bahasa Latin dan bahasa Perancis, sedemikian baik, sehingga sepanjang hidupnya ia dapat menggunakan kedua bahasa itu tanpa kesalahan. Selain itu ia sangat tertarik pada ilmu tumbuh-tumbuhan, suatu ketertarikan yang dia bawa selama hidupnya dan ia bagikan dengan gembira pada murid-muridnya. Sering kali ia dapat memandang suatu bunga atau suatu tanaman dengan rasa kagum, dan ia bersyukur pada Sang Pencipta untuk semua keindahan itu. Jean adalah seorang seminaris yang serius dan saleh, yang tidak tertarik pada olah raga dan permainan-permainan. Setiap waktu luang dia gunakan untuk membaca. Waktu liburan di rumah selama musim panas dimanfaatkannya untuk membantu ayahnya di ladang. Hari-hari kerja yang panjang ia lalui di ladang, karena selama musim panas banyak hal harus dikerjakan. Maklumlah, pada waktu itu belum ada mesin-mesin pertanian.
Pada tahun 1857 Jean pindah ke Grenoble, di mana ia harus belajar filsafat selama satu tahun, dan kemudian mulai belajar teologi di seminari tinggi. Masa empat tahun di seminari tinggi itu sangat berpengaruh dalam hidup Jean Berthier. Di seminari itu ia diajar oleh beberapa dosen yang sangat kompeten dan juga saleh, dan selama empat tahun itu Jean berhasil mengumpulkan bekal ilmiah dan rohani, yang di kemudian hari sangat berguna bagi dirinya. Ia menuntut banyak dari dirinya, dan yakin bahwa ia harus menjadi seorang imam yang mampu dan saleh, dan untuk itu ia harus meletakkan fondasi yang baik selama di seminari. Kelak pada akhir hidupnya, Pater Berthier berkata: “Sejak belajar di seminari tinggi saya tidak bisa mengerti bagaimana seorang imam dapat membiarkan satu menit tanpa berbuat sesuatu.” Ia sendiri selalu sibuk, tetapi juga mempunyai talenta khusus untuk membagi waktu antara studi dan aktivitas lain dalam satu hari, sehingga satu tugas bisa menjadi suatu variasi bagi tugas yang lain.
Selalu sadar akan tugas-tugasnya di masa depan sebagai imam, Jean mulai mengumpulkan koleksi-koleksi kutipan dari tulisan para Bapa Gereja, dari teolog besar dan pengkhotbah ulung, dan juga contoh-contoh dan cerita-cerita dikumpulkan dan diatur, supaya pada suatu saat di kemudian hari dapat dipakai dalam khotbah-khotbahnya. Dalam arsip MSF di Roma tersimpan kumpulan besar dari catatan-catatan dan bahan praktis untuk khotbah dan katekese. Selama tahun-tahun di seminari ini ia banyak berpikir tentang masa depannya: menjadi imam, ya! Tetapi di manakah dan bagaimana? Selama beberapa tahun di seminari ia mencita-citakan tugas sebagai imam di paroki yang paling miskin dari keuskupan untuk hidup dan bekerja dalam semangat santo pastor dari Ars yang meninggal beberapa tahun sebelumnya. Di lain pihak ia tertarik pada hidup religius yang paling sukar dan keras seperti dipraktikkan oleh para pertapa Kartusian. Selama liburan besar tahun 1861, sebelum tahun terakhir di seminari, ia bersama beberapa teman sekelas berziarah ke La Salette, tempat di mana Bunda Maria 15 tahun sebelumnya menampakkan diri. Jean begitu terkesan oleh kelompok kecil Misionaris La Salette, sehingga ia berkata: “Ke sini aku akan kembali!” Keraguannya tentang masa depannya telah hilang. Segera setelah ujian terakhir di seminari ia langsung pergi ke La Salette dan masuk di biara para Misionaris La Salette.

Misionaris La Salette
Tidak lama setelah masuk biara, Jean ditahbiskan menjadi imam pada tgl. 20 September 1862, pada umur 22 tahun. Tahun novisiat yang dimulai dua hari sebelumnya harus dilaksanakan selama 3 tahun karena ia sakit beberapa kali selama di novisiat. Ia perlu pergi berkali-kali dari biara di atas gunung yang amat dingin itu untuk memulihkan kesehatannya. Selama periode-periode istirahat itu ia menjadi guru dalam keluarga bangsawan dan membantu di sebuah paroki kecil. Akhirnya pada bulan September 1865, ia boleh mengucapkan profesi pertama dalam Kongregasi MS dan melakukan kembali aktivitas normalnya. Sepanjang hidupnya ia selalu menderita karena kesehatannya yang buruk. Tetapi itu tidak menjadi halangan untuk melakukan jatah pekerjaan dari dua atau tiga imam yang sehat!
Kongregasi Misionaris La Salette didirikan tahun 1852 oleh uskup Grenoble untuk menjamin pelayanan imam bagi para peziarah yang datang ke La Salette selama musim panas. Kelompok imam masih kecil dan khususnya pada akhir pekan datang banyak peziarah yang memerlukan pelayanan pastoral. Kegiatan pelayanan yang tetap adalah: perayaan liturgi penyambutan kedatangan para peziarah, perayaan ekaristi, kisah tentang penampakan lengkap dengan penjelasan, prosesi lilin pada malam hari. Selain itu banyak waktu harus dipakai bagi pelayanan pengakuan dosa dan konsultasi pribadi. Juga pelayanan yang lebih "duniawi" bagi para peziarah yang menginap di La Salette harus dilakukan oleh para pater karena tiada pembantu-pembantu awam.
Sepanjang musim dingin pegunungan La Salette tidak mungkin dikunjungi. Para misionaris ditugaskan untuk meningkatkan dan menyegarkan iman umat melalui semacam retret paroki (misi umat) di wilayah keuskupan Grenoble. Misi umat merupakan kegiatan sangat intensif dalam reksa pastoral di paroki-paroki. Tergantung dari besarnya paroki, para misionaris datang berdua atau bertiga. Tugas mereka ialah berkhotbah dan memberikan ceramah rohani, melakukan perayaan bagi kelompok-kelompok umat yang berbeda (anak-anak, remaja, bapa-bapa, ibu-ibu, dll). Melalui sakramen tobat dan pelajaran katekese para misionaris mengembangkan pemahaman agama dan memperdalam iman. Para Pater harus bekerja keras sepanjang hari selama misi umat. Sering ada begitu banyak permintaan dari paroki-paroki, sehingga setelah misi intensif dan melelahkan di salah satu paroki, para misionaris hanya mempunyai beberapa hari beristirahat, sebelum memulai lagi misi di paroki yang lain. Selain dari misi, ada juga permintaan retret untuk kelompok imam atau suster.
Begitulah hidup Pater Berthier dipenuhi kesibukan pastoral, yang tidak jarang menuntut juga suatu tindak lanjut melalui surat-menyurat dengan orang-orang yang ingin menghidupi panggilan mereka sebagai awam, religius atau imam lebih serius, dan yang menginginkan pengarahan rohani darinya.

Pengkhotbah
Sebagaimana telah kita lihat, para Misionaris La Salette disibukkan oleh aktivitas pastoral di atas gunung suci (La Salette) selama musim panas dan selama musim dingin di paroki-paroki. Satu dari tugas-tugas paling penting adalah berkhotbah. Karena peziarah silih berganti datang, maka tidak perlu dipersiapkan setiap hari khotbah-khotbah yang baru. Demikian juga dengan misi-misi di paroki: hampir semua bahan dapat digunakan berkali-kali. Tentu saja tidak mungkin juga setiap kali disiapkan khotbah, konferensi dan ceramah rohani yang baru sebab waktu persiapan sangat terbatas. Tetapi pengulangan khotbah tentu mengandung risiko bahwa khotbah disampaikan hampir secara mekanik, tanpa penjiwaan dan semangat. Para rekan mengatakan bahwa Pater Jean selalu mencari sedikit waktu luang sebagai persiapan terakhir bagi setiap khotbah dan konferensi rohaninya, untuk menghindari risiko di atas. Berkat ingatannya yang luar biasa dengan mudah ia dapat menceritakan contoh-contoh dan cerita-cerita pendek yang banyak tersimpan di kepalanya. Dengan demikian khotbahnya menjadi lebih ringan dan mudah dimengerti melalui contoh, anekdot, dan cerita yang hidup. Sering kali ia begitu menjiwai khotbahnya, sehingga ikut merasakan emosi yang ingin ditimbulkan di dalam hati para pendengarnya dan mempengaruhi para pendengarnya. Beberapa kali bahkan ia sampai menitikkan air mata ketika menceritakan dan menjelaskan kisah bunda Maria yang menangis.
Itu semua menjadikan Pater Berthier seorang pengkhotbah favorit, dan para konfraternya secara spontan setuju menunjuknya untuk berkhotbah di La Salette pada hari-hari pesta bunda Maria. Salah seorang konfraternya yang sering bersamanya memberikan misi umat mengatakan bahwa dalam tahun-tahun itu tidak satu misi pun dari Pater Berthier gagal. Ia mempunyai talenta untuk memasukkan dalam khotbah sederetan sarana dan unsur variasi untuk menarik perhatian umat yang tidak selalu mudah, karena sering umat kelelahan sebab bekerja sepanjang hari, sebelum mendengarkan khotbah pada malam hari.
Satu bagian penting dari misi umat adalah kunjungan keluarga ke rumah-rumah. Biasanya para imam mengunjungi semua keluarga pada minggu pertama untuk mendorong mereka ambil bagian dalam misi umat dan menghadiri acara-acaranya. Pater Berthier selalu amat mendesak kehadiran kaum laki-laki. Jika mereka tertarik, maka misi umat mengalami kesuksesan. Dengan segala bakat intelektual dan afektif ia mengajak kaum laki-laki yang sering sudah bertahun-tahun tidak ke gereja, untuk jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia berhasil mempertobatkan dan membawa banyak dari mereka pada pengakuan dosa. Ia menggunakan segala daya ciptanya untuk menarik para kakek dan ayah ke gereja dengan melibatkan anak atau cucu dalam perayaan: mereka boleh membacakan Kitab Suci, atau menyanyikan lagu, atau melantunkan suatu deklamasi.
Salah satu prinsip Pater Berthier adalah: suatu khotbah harus sederhana dan mudah dimengerti. Tidak pernah ia membawa khotbah hanya untuk kaum terpelajar, melainkan untuk semua, termasuk pembantu rumah tangga yang kurang berpendidikan. Seni berkhotbah yang baik adalah menerangkan bahan yang sukar dan penting sedemikian rupa sehingga umat biasa pun bisa mengertinya. Sesungguhnya contoh-contoh dan anekdot yang dipilihnya dengan baik sering membuat khotbah jadi mudah dimengerti dan sering tak terlupakan.

Pengarang
Tidak berapa lama setelah masuk Kongregasi Maria La Salette, Jean harus menghentikan beberapa kali masa novisiatnya karena sakit. Atasan memberikan tempat kerja yang ringan di mana ada cukup waktu untuk istirahat. Tetapi ia mengeluh kepada romo pemimpin novis, yang berkata kepadanya: "Jika engkau tidak bisa melaksanakan suatu karya yang berat, maka selalu bisa mengarang sesuatu!" Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu, dan ia langsung menerima nasihat dan mulai mengarang. Sampai hari terakhir hidupnya ia terus menulis, sehingga kita mempunyai, di samping banyak sekali karangan, 35 buku besar dan kecil. Beberapa buku kecil, tetapi ada juga dengan 1000-2000 halaman. Sebagian besar dicetak ulang kerap kali dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Pater Berthier adalah salah satu pengarang rohani favorit dari abad ke-19. Jumlah buku yang terjual selama hidupnya melebihi satu juta eksemplar.
Ia menulis sebagaimana ia berkhotbah, untuk setiap kelompok orang dan umur: anak-anak, muda-mudi, ayah-ibu, para suster, para imam. Dalam arti tertentu buku-bukunya merupakan semacam kelanjutan dari khotbahnya; melalui buku-bukunya ia mau memperluas sidang pendengarnya. Barangsiapa membaca buku-buku, yang dikarangnya bagi pelbagai kelompok awam, dapat membayangkan bagaimana Pater Berthier mengarang: ia selalu melihat orang-orang itu di hadapannya, persis sama seperti ketika ia berkhotbah. Gayanya sama dalam khotbah dan dalam tulisannya: praktis dan enak dicerna; bahan yang sukar selalu dijelaskan dengan banyak contoh dan cerita yang menyenangkan. Ia menggunakan banyak kutipan dari Bapa-Bapa Gereja, dari teolog dan pengkhotbah yang tersohor.
Ia tidak pernah mencapai taraf sebagai pengarang yang berbakat tinggi, sehingga kita tidak boleh menantikan dari dia karya dengan nilai sastra yang besar. Ia seorang praktisi yang telah melihat dengan cermat segala kemungkinan dari naskah tercetak: orang bisa menjangkau ribuan orang, sedangkan sidang pendengar dari seorang pengkhotbah tidak melebihi beberapa ratus orang. Untuk sungguh mencapai kelompok orang yang besar itu, ia juga harus menjadi seorang pedagang dan manager yang baik. Kumpulan surat yang besar tersimpan dalam arsip MSF di Roma, menggambarkan dengan baik bagaimana ia ingin menjangkau sebanyak mungkin pembaca. Oleh karena itu harga buku-bukunya harus serendah mungkin, sedangkan promosi dan pengiriman buku-bukunya diserahkan kepada sejumlah sukarelawan dan sukarelawati yang setia.
Buku-buku karangan Pater Berthier, yang ditulis untuk para imam, direncanakan sebagai suatu pertolongan agar mereka dapat hidup dan bertugas sebaik mungkin sebagai imam. Bagi mereka ia telah menyusun suatu buku "ringkas" (800 halaman!) dengan segala informasi yang harus dimiliki seorang imam untuk menunaikan tugasnya dengan baik: segala bagian teologi dan hukum Gereja diringkaskan dalam buku ini secara sederhana dan gemilang. Seorang imam akan menemukan dengan mudah jawaban atas pertanyaan dan masalahnya. Itulah "Kompendium Teologi Dogmatik dan Moral". Selain dari itu ia telah menyusun suatu buku besar ("Imam dan Pelayanan Sabda", hampir 2000 halaman!) untuk menolong para imam dalam tugasnya sebagai pengkhotbah: ratusan contoh khotbah dan ceramah rohani disajikan untuk semua kesempatan dan pesta entah lengkap atau dalam bentuk skema atau ringkasan. Dengan demikian sang pengkhotbah amat dibantu untuk menyusun suatu khotbah yang baik.

Pendidik Calon-Calon Imam
Pada tahun 1876 Kongregasi Misionaris La Salette berumur hampir 25 tahun. Tetapi anggota kongregasi masih sangat sedikit. Hanya ada 10 anggota, jumlah yang terlalu sedikit untuk sekian banyak aktivitas di gunung suci, dan selama musim dingin di paroki-paroki. Karena alasan ini diputuskan membuka sebuah sekolah apostolik sebagai awal dari program pendidikan calon imam tarekat. Pater Berthier sebagai anggota yang paling pandai diminta untuk mendirikan dan mengelola sekolah baru tersebut. Pada musim panas tahun 1876 sekolah di Corps dimulai dengan 15 siswa, tetapi jumlah siswa berkembang dengan cepat. Jean tidak hanya menjabat direktur sekolah, tetapi ia juga satu-satunya pengajar full-time. Sejak awal tujuan sekolah ini dirumuskan dengan jelas: membentuk para imam yang saleh dan cakap. Oleh karena itu latihan-latihan kerohanian mengambil tempat penting dalam program harian. Program studi selama 4 tahun berpusat pada studi bahasa Latin dan bahasa Perancis, sementara pelajaran lain mendapat porsi waktu yang sangat terbatas. Pater Berthier berpendapat bahwa titik berat dari pendidikan imam ditemukan setelah sekolah apostolik, yaitu di novisiat, yang berpusat pada aspek-aspek spiritual panggilan, dan di skolastikat di mana para calon imam memperoleh kemampuannya dengan belajar filsafat dan teologi. Sekolah apostolik berfungsi hanya sebagai persiapan bagi novisiat dan skolastikat. Oleh karena itu ia membatasi waktu di sekolah apostolik menjadi hanya empat tahun. Tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa tahun ajaran itu lebih panjang dari pada di sekolah menengah biasa. Sebab para siswa tidak pulang untuk liburan. Mereka mengikuti program pelajaran di sekolah yang hanya sedikit lebih ringan daripada biasa!
Ketika para siswa angkatan pertama menyelesaikan sekolah apostolik dan mereka harus masuk novisiat, situasi keagamaan di Perancis menjadi sangat problematis. Undang-undang antiklerikal dari tahun 1880 hampir-hampir tidak memungkinkan pendirian sebuah biara atau seminari. Karena alasan itu Pater Berthier dan para seminaris harus lari ke luar negeri. Di Swis Barat ditemukan tempat pengungsian di Loèche. Tetapi karena situasi finansial untuk kaum rohaniwan di Perancis semakin parah, maka periode pendidikan para pengungsi di Loèche diwarnai oleh kemiskinan yang hebat. Pater Jean tidak begitu khawatir dengan situasi ini. Sebab ia berpendapat bahwa sebuah masa persiapan yang sulit akan menghasilkan calon-calon misionaris yang bisa beradaptasi dengan kehidupan yang sulit sebagai misionaris dalam misi umat atau di Afrika dan Asia. Sampai tahun 1889, tugas utama Pater Berthier adalah mendidik calon-calon imam. Waktu untuk menulis, untuk berkhotbah dan untuk memberi misi umat dan retret menjadi sangat terbatas.

Pendiri Kongregasi MSF
Setelah dibebaskan dari tugas sebagai formator, pada tahun 1889, Pater Berthier membaktikan seluruh tenaga untuk menulis buku dan melakukan aktivitas pastoral di atas gunung suci La Salette, dan selama musim dingin di paroki-paroki. Buku-bukunya yang paling penting yang juga telah menuntut paling banyak waktu persiapan, telah dikarang pada tahun-tahun ini: buku-buku tentang hidup membiara dan tentang imamat, dan buku-buku pegangan bagi para imam.
Pada masa-masa ini Pater Berthier sangat tersentuh oleh pengalaman yang terus-menerus berulang. Ada banyak pemuda antara 15-30 tahun yang ingin menjadi imam, tetapi tidak dapat merealisasikan keinginan mereka, sebab seminari tidak menerima para calon yang berumur lebih dari 14 tahun. Ia yakin bahwa di antara mereka ada calon-calon yang bagus. Selain dari itu, pada waktu yang sama Paus Leo XIII berbicara berulang kali tentang sangat kurangnya tenaga misionaris untuk mewartakan Kabar Gembira di Afrika dan Asia. Secara khusus dalam ensiklik Sancta Dei Civitas, Paus mengajak para uskup untuk mencoba segala kemungkinan guna menyiapkan dan mengutus sebanyak mungkin misionaris. Sebagai seorang yang amat praktis Pater Berthier melihat di satu pihak permintaan, dan di pihak lain tawaran. Ia berbicara dengan para pemimpinnya, tentang keinginannya untuk membuka sebuah seminari khusus atau sebuah sekolah apostolik untuk mengumpulkan “panggilan terlambat” itu, guna mendidik mereka menjadi misionaris. Tetapi ia tidak dapat meyakinkan para pemimpinnya. Apa yang harus dilakukan sekarang? Ia berbicara dengan orang lain, secara khusus dengan beberapa pejabat Gereja, seperti Kardinal Langénieux, uskup Reims, dan Kardinal Rampolla, Sekretaris Negara Vatikan. Kardinal Rampolla berbicara dengan Paus Leo XIII. Dalam audiensi tgl. 15 November 1894 Sri Paus berbicara dengan Kardinal Langénieux dan sangat memuji rencana Pater Berthier. Beliau memberkati rencana ini dan berharap agar cepat dapat direalisasikan. Paus Leo juga menyampaikan kepada Kardinal segala kuasa untuk mempermudah usaha-usaha selanjutnya, termasuk pendirian suatu kongregasi baru.
Disemangati oleh keinginan Sri Paus, Pater Berthier langsung memulai persiapan itu. Undang-undang antiklerikal di Perancis tidak memungkinkan pendirian suatu kongregasi atau biara baru di situ. Maka ia mempertimbangkan kemungkinan di Kanada atau di Belanda, dan memilih kemungkinan kedua, sebab Kanada “terlalu jauh”. Di Belanda tinggal beberapa sahabat yang ia kenal sejak mereka berziarah ke La Salette, khususnya keluarga Brouwers dari Tilburg. Dengan bantuan mereka Pater Berthier dalam beberapa bulan dapat menemukan sebuah rumah yang ia suka dan tidak terlalu mahal, yakni sebuah tangsi (asrama prajurit) yang tua, yang tidak dipakai lagi, di Grave, sebuah kota benteng kecil. Penampilan rumah begitu jelek sehingga pada permulaan wali kota tidak berani memperlihatkannya. Tetapi Pater Berthier merasa cocok dengan rumah ini, karena: besar, cukup untuk sekitar seratus murid, sederhana, tidak mewah. Hal ini cocok sebagai tempat pembinaan di mana calon-calon misionaris dapat belajar hidup keras dan sederhana, seperti di tempat misi nanti. Selain itu kongregasi baru ini diberi nama Kongregasi para Misionaris Keluarga Kudus. Keluarga Kudus juga selalu mengalami situasi miskin, katanya. Lapangan untuk latihan militer di bekas tangsi itu bisa diubah menjadi kebun sayuran. Pater Berthier begitu antusias tentang tempat tersebut, sehingga ia langsung membeli rumah dan tanah di sekitarnya.
Di bawah bimbingannya para penderma dan wanita-wanita, yang sampai waktu itu selalu menolong dia dengan penjualan buku-bukunya, mulai sekarang membuat propaganda bagi kongregasi baru. Pada tgl. 28 September 1895 Pater Berthier menerima ijin tertulis dari uskup 's-Hertogenbosch, dan memulai di Grave bersama dengan sepuluh murid, fondasi baru di dalam tangsi tua. Selama bulan-bulan pertama para murid baru terus berdatangan ke Grave. Tetapi tahun-tahun pertama adalah masa yang sangat sulit dan tidak ada seorang pun dari kelompok murid pertama yang masih tersisa. Dengan dibantu oleh dua wanita Perancis untuk urusan pekerjaan rumah Pater Berthier terus melanjutkan usahanya. Sejak tahun 1898 terwujud suatu kelompok murid yang tetap bertahan, sebagai anggota awal dari kongregasi baru. Pada tahun-tahun pertama Pater Pendiri merangkap tugas sebagai pemimpin dan pengajar. Sampai saat tahbisan imam-imamnya yang pertama pada tahun 1905 ia ditolong hanya selama periode-periode pendek saja, oleh beberapa imam lain, termasuk dua imam dari kongregasinya sendiri MS. Ia mempunyai kebiasaan untuk melibatkan para mahasiswa di kelas atas dan para frater yang belajar filsafat dan teologi untuk mengajar di kelas-kelas bawah. Ini bukan solusi ideal, tetapi satu-satunya kemungkinan untuk menjalankan pendidikan dengan sarana-sarananya yang terbatas. Tujuan Pater Berthier dengan pendidikan di Grave sama seperti dulu: ia ingin membentuk misionaris-misionaris yang saleh dan cakap. Sama seperti yang ia lakukan 15 tahun sebelumnya dalam kongregasinya MS, demikian pula di Grave. Titik berat pendidikannya terletak pada tahap novisiat dan pada studi filsafat-teologi. Sekolah apostolik hanya mempersiapkan bagi tahap-tahap berikut, sehingga boleh dibatasi pada pendidikan minimal yang perlu. Tuntutan yang paling penting di sekolah apostolik ialah para murid harus belajar secara sempurna bahasa Latin dan bahasa Perancis. Pelajaran lain diajarkan tidak mendalam. Kalau ada siswa yang sudah belajar beberapa waktu di luar, maka waktu mereka di sekolah apostolik dapat diperpendek.
Kehidupan di Grave sangat ekstrim dalam hal kemiskinan, baik rumah maupun perabot, yang telah dibuat oleh para siswa sendiri. Bagian tidak kecil dari waktu dipakai untuk kerja tangan untuk menekan biaya semaksimal mungkin. Pater Pendiri mempunyai uang, tetapi ia ingin mendidik sebanyak mungkin calon dengan sarana yang terbatas itu. Dalam kelompok siswa hampir segala keahlian dikuasai, dan begitulah kelompok "Pater-Pater Perancis" (demikianlah mereka disebut orang di Grave!) mandiri dalam hampir apa saja. Hidup di Grave sukar, tuntutan-tuntutan dari Pater Berthier terhadap para muridnya tinggi, tetapi para murid dan frater dari periode itu memberi kesaksian yang sama bunyinya: pribadi Pendiri membuat hidup tidak hanya tertahankan melainkan bahkan bahagia! Di bawah bimbingannya semua merasa sebagai satu keluarga, yang mengejar cita-cita yang luhur. Dengan kesederhanaannya yang luar biasa – ia mengambil bagian 100% dalam hidup para siswa - Pendiri menjadi teladan bagi mereka.
Meskipun Pater Berthier selalu menderita karena kesehatannya kurang baik, yang khususnya pada musim dingin menyebabkan banyak gangguan, namun ia telah bekerja dengan tekun sampai hari terakhir hidupnya. Ia sangat sibuk di Grave sebagai pemimpin dan pengajar dan harus memberi perhatian kepada para siswa dan para frater. Selain dari itu ia terus-menerus menulis buku dan karangan untuk majalah "Messager de la Sainte Famille" (Utusan dari Keluarga Kudus) suatu majalah bulanan yang didirikannya dan yang untuk sebagian besar diisi sendiri juga. Tetapi tugas yang menuntut paling banyak energi adalah menyiapkan beberapa kali cetak ulang dari buku-bukunya yang paling penting untuk para imam dan religius. Ia membaca banyak dan menginginkan agar buku itu selalu up to date. Ia tidak bisa hidup tenang tanpa bekerja; nanti, katanya, saya akan beristirahat di surga!
Pada musim gugur tahun 1908 Pater Berthier sangat menderita karena sakit bronkitis, tetapi ia merasa tidak perlu beristirahat di tempat tidur, dan kemudian melakukan pekerjaan rutin. Pada tanggal 16 Oktober ia bangun seperti biasa guna memulai aktivitas hariannya. Tetapi serangan penyakit memaksanya kembali berbaring di tempat tidur, dan satu jam kemudian beliau wafat. Dengan semangat pastoral yang luar biasa ia sungguh menjadi seorang imam untuk seluruh umat kristiani: sebagai pengkhotbah, pengarang, pendidik calon-calon imam, dan pendiri suatu kongregasi misionaris.

Wim van der Weiden MSF

Read More......

Selasa, Oktober 28, 2008

Meditasi yuk...



Pada tanggal 23-24 Oktober yang lalu, Wisma Nazareth kedatangan tamu dari London yaitu Pastor Laurence Freeman OSB. Beliau pastor dari ordo kontemplatif Benediktin. Tetapi beberapa tahun terakhir ini beliau mengembangkan apa yang disebutnya "komunitas doa diluar biara".
Dia kini memang mengorganisir kelompok meditasi kristiani di sekitar 66 negara. Di Indonesia di koordinir oleh seorang dokter namanya bapak Hendrawan dari Jakarta. Ketika berkunjung ke Indonesia dan tinggal di Jogja beliau juga bersama bapak Hendrawan. Selama di Indonesia termasuk di jogja beliau mensosialisasikan MEDITASI KRISTIANI. Beliau mengajak kita semua untuk kembali menggiatkan meditasi. "Melalui meditasilah kita mengalami kehadiran Allah dalam hati kita", demikian kata Pastor Laurence.
Tentu saja meditasi tidak hanya ekslusif hanya bagi para biarawan/ti. Kaum awam pun hendaknya melakukan doa meditasi ini. Dan menurutnya, sekarang ini makin banyak umat yang mulai menjalani meditasi. Disarankan kita menjalani meditasi dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore/malam.
Di skolastikat MSF dilakukan meditasi tiap hari sesudah misa dan ibadat pagi di GEreja. Barangkali Anda kaum muda ada yang tertarik mengalami keindahan meditasi, silahkan bergabung.


Read More......

Jumat, Oktober 17, 2008

Undangan untuk Anda

Akan diadakan rekoleksi panggilan. Rekoleksi ini dimaksudkan untuk memantapkan keputusan memilih jalan panggilan religius. Rekoleksi akan di selenggarakan di WISMA BETHLEMEM Jl Cemara 41A SALATIGA, mulai tanggal 18 Oktober sampai 19 Oktober.
Anda tertantang untuk mengikuti undahan kami? Silahkan menghubungi Rm. Bowo di Jogja dengan kontak alamat email atau telepon. Atau anda juga bisa menghubungi langsung promotor panggilan di Salatiga, Rm. Andy Iwan



Read More......

Minggu, September 21, 2008

Mahalnya harga sebuah pilihan

oleh YONAS ROKA, MSF

Pagi yang cerah di SOS Desa Taruna Semarang. Aku dan kedua temanku ikut mengantar anak-anak ke sekolah. Aku mengikuti mobil Elsa yang mengantar anak-anak yang sekolahnya paling jauh dari panti, sedangkan kedua temanku mengikuti bis yang mengantar anak-anak yang sekolahnya lumayan dekat dengan panti. Perasaan pertama yang muncul dalam diriku saat itu adalah senang dan bahagia karena boleh mengalami, melihat dan merasakan rutinitas harian yang sering dijalankan anak-anak panti. Inilah kesempatan emas bagiku untuk mencicipi ”sebagian kecil” dari keseharian mereka...

Mobil berjalan perlahan meninggalkan panti. Perjalanan semakin jauh. Satu persatu anak mulai turun. Mobil semakin lengang. Tak ada lagi canda dan tawa yang sejak dari panti tak pernah berhenti berceloteh. Aku mulai jenuh. Tak kusadari, aku mengantuk dan tertidur. Yah... aku tidur walau hanya sesaat (± 5 menit). Aku bangun ketika mobil berhenti lagi dan menurunkan seorang anak panti. Seorang anak yang duduk disampingku bertanya: ”ngantuk ya, Ter”. Aku mengangguk. Dalam hati aku kesal setengah mati dengan diriku sendiri. ”Kok bisa ya? Belum seberapa jauh berjalan, aku sudah ngantuk seperti ini. Apalagi mereka-mereka ini... yang setiap hari harus menjalani rutinitas seperti ini...”
Kesadaran akan pengalaman ini membawa refleksi tersendiri bagiku. Pengalaman ini sungguh menggugah dan menyadarkanku akan arti sebuah pilihan. Anak-anak panti telah memilih sekolah sesuai dengan kemampuan dan kemauan mereka sendiri. Sebagai konsekwensi dari pilihannya itu, mereka setia menjalaninya, walaupun harus berjalan begitu jauh setiap harinya. Mereka tak mengeluh, karena mereka yakin akan pilihannya sendiri. Pilihan itu mereka jalani dengan setia walau kadang membosankan. Sekolah yang jauh bukanlah halangan bagi mereka untuk maju. Mereka tetap tekun menjalaninya. Aku tersadarkan. Aku telah memilih sendiri jalan hidupku, tapi kadang aku tidak yakin dengan pilihanku sendiri. Kejenuhan, kebosanan, ketidaksetiaanku pada pilihan hidup yang sedang kujalani ini kadang menghambat aku untuk maju dan berkembang. Image diri yang ideal seringkali melumpuhkan aku untuk berjalan bebas mengarungi luasnya bahtera kehidupan yang harus kuarungi dan kugapai. Aku terjebak di dalamnya... Image diri yang ideal ini ternyata mengungkung dan mengekang kebebasanku dalam meniti hidup dan pilihan hidupku. Kesetiaan anak-anak panti dalam menjalani ”pilihannya” menyadarkanku akan kekeliruanku. Aku mengakui, aku salah... Aku kalah... Tapi sekarang ini, aku tak mau lagi terjebak dalam kekalahan dan kesalahanku. Aku mau setia pada pilihanku, walaupun itu perlu proses panjang dan tidak ringan. Proses itu tidak mungkin sekali jadi seperti aku membalikkan telapak tanganku. Di depanku selalu ada tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan itu kujadikan sebagai guru yang baik bagi diriku karena aku mau berproses di dalamnya. Aku mau membayar kekeliruan yang pernah aku buat di masa lalu, yakni ketidaksetiaanku pada pilihan dan keputusanku. Aku mau setia. Dan kesetiaan pada pilihan itulah yang harus aku bayar...
Terima kasih atas pelajaran hidup yang boleh kalian bagikan padaku para sahabatku, anak-anak panti SOS Desa Taruna Semarang. Kita saling mendoakan, agar kita tetap tekun dan setia pada pilihan hidup yang telah kita buat. Amin.

Salam hangatku untukmu semuanya...

Read More......